Saturday, 11 June 2016

PENGUMUMAN KELULUSAN SISWA KELAS IX TP.2015/ 2016

KEPUTUSAN KEPALA SMP NEGERI 147 JAKARTA 
TENTANG PENETAPAN KELULUSAN PESERTA DIDIK KELAS IX TAHUN PELAJARAN 2015-2016 
 NO. 186 / 1.851.521 / 2016 
 
 Berdasarkan Kriteria Kelulusan yang telah ditetapkan dalam Kurikulum Sekolah Menengah Pertama SMP Negeri 147 Jakarta dan Standar Minimal Kelulusan yang telah ditetapkan Kepala SMP N 147 ,serta rapat Dewan Guru yang dilaksanakan hari Kamis,9 Juni 2016 , Peserta Didik yang dinyatakan LULUS sebanyak 282 siswa
 
 Kami keluarga besar SMP Negeri 147 Jakarta mengucapkan selamat buat kalian yang telah Lulus,rayakan dengan rasa syukur kepada yang Maha Kuasa, ingat perjalanan kalian kedepan masih panjang mudah-mudahan kelulusan saat ini merupakan proses kesuksesan kalian di masa mendatang   
 
 
 
 Jakarta, 11  Juni 2016 
 Kepala SMP Negeri 147 Jakarta, 
 ttd 
 
 Tiar Marbun, MPd
 NIP. 196007271983032014

Friday, 10 June 2016

PENGUMUMAN KELULUSAN DAN HASIL NILAI UJIAN NASIONAL SISWA KELAS IX SMPN 147 JAKARTA TP.2015/2016

BISMILLAHIRROMANIRROHIIM





PENGUMUMAN UJIAN NASIONAL 2016

Di beritahukan Kepada seluruh peserta didik Kelas IX SMP NEGERI 147 Jakarta Tahun Pelajaran 2015/2016:
Untuk pengumuman nilai hasil Ujian Nasional dapat di lihat melalui web sebagai berikut :

http://202.149.89.76/hasilunsmp/  atau disdik.jakarta.go.id/

Yang akan dilaksanakan pada Hari : Sabtu, 11 Juni 2016 Jam 10.00 WIB

Siswa tidak diperkenankan hadir disekolah pada Hari : Sabtu, 11 Juni 2016

Pada hari Sabtu, 11 Juni 2016 Peserta didik untuk tidak melakukan hal-hal berikut :
A.Corat-coret baju dan objek lainnya
B.Konvoi kendaraan bermotor
C.Kumpul atau nge-geng di tempat-tempat tertentu
D.Tawuran
E.Pemalakan/bullying
F.Hal-hal lain yang melanggar ketertiban umum dan melanggar hukum.
G.Bagi peserta didik yang melanggar instruksi tersebut, maka kepadanya akan diberikan sanksi yang tegas oleh sekolah dan otomatis ijazah dan SKHUN tidak akan diberikan kepada siswa dan dikembalikan ke Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

4. Berikut ini disampaikan tata cara melihat hasil UN :
Gunakan nomor peserta Ujian Nasional sebagai username (langsung masukkan
angka 9 digit format: xx-xxx-xxx-x).
Gunakan tanggal, bulan, dan tahun lahir sebagai password (langsung masukkan        
angka 8 digit format : xx-xx-xxxx).
Jika muncul alert "Data tidak ditemukan"
berarti antara username dan password salah.
Jika merasa username dan password sudah benar namun masih muncul alert
"Data tidak ditemukan", segera hubungi admin dinas di bawah ini:
085779970399 (Marta PDSIP Dinas Pendidikan)
082111581121 (Panca PDSIP Dinas Pendidikan)
087889262399 (Rangga PDSIP Dinas Pendidikan

5. Untuk Informasi selanjutnya akan di posting lagi di blog ini atau melalui wali kelas

6.SKHUN Sementara akan dibagikan langsung kepada siswa mulai hari senin 13 Juni 2016 oleh sekolah melalui walikelas masing-masing.

Demikian pengumuman ini di sampaikan,agar di laksankan dengan sebaik-baiknya.

Terima Kasih
Admin 2016

Monday, 6 June 2011

DAFTAR ALAMAT DAN TELEPON SMA DAN SMK REGULER DI DKI JAKARTA

Daftar Alamat SMK REGULER di Provinsi DKI Jakarta

KOTA ADMINISTRASI JAKARTA PUSAT
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
KOMPETENSI KEAHLIAN
20100161 SMK Negeri 2 Jl. Batu No. 3 3846219
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Multimedia
  5. Rekayasa Perangkat
    Lunak
20100164 SMK Negeri 3 Jl. Garuda No. 63 021 - 4209629
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
20100159 SMK Negeri 16 Jl. Taman Amir Hamzah 021 - 3904112
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
20100160 SMK Negeri 19 Jl. Danau Limboto No. 11 021 - 5734929
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
20100162 SMK Negeri 21 Jl. Siaga I Gg. Swadaya III 021 - 98168518
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
20100165 SMK Negeri 31 Jl. Kramat Raya Baru 021 - 4246015
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
20100166 SMK Negeri 34 Jl. Kramat Raya No. 93 021 - 3909035
  1. Tek. Industri Tenaga
    Listrik
  2. Tek. Permesinan
  3. Tek. Kendaraan Ringan
  4. Multimedia
20100167 SMK Negeri 38 Jl. Kebon Sirih No. 38 021 - 3441788
  1. Jasa Boga
  2. Busana Butik
  3. Akomodasi Perhotelan
20100168 SMK Negeri 39 Jl. Cempaka Putih Tengah VI No. 2 021 - 4246845
  1. Audio Video
  2. Tek. Elektronika Industri
  3. Tek. Kendaraan Ringan
20100157 SMK Negeri 44 Jl. Harapan Jaya 9/5A 021 - 4240912
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
20100156 SMK Negeri 54 Jl. Bendungan Jago No. 53 021 - 4248741
  1. Tek. Mekanik Otomitif
  2. Tek.Pendingin &
    Tata Udara
 
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
KOMPETENSI KEAHLIAN
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
KOMPETENSI KEAHLIAN
20100783 SMK Negeri 12 Jl. Kebon Bawang 15 021 - 43932785, 43913815
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
20107433 SMK Negeri 23 Jl. Pedamengan III/19 021 - 64713210, 64714260
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
20107435 SMK Negeri 36 Jl. Baru Kosambi III 021 - 4401523
  1. Agri Bisnis Perikanan
  2. Nautika Kapal Penangkap Ikan
  3. Teknik Kapal Penangkap Ikan
  4. Teknik Kendaraan Ringan
  5. Tek. Komputer Jaringan
  6. Tek. Permesinan
  7. Teknik Alat Berat
20107437 SMK Negeri 49 Jl. Sarang Bango No. 1 021 - 98168518
  1. Akuntansi
  2. Adm Perkantoran
  3. Pemasaran
20107438 SMK Negeri 55 Jl. Pademangan Timur VII 021 - 6412787
  1. Tek. Instalasi Tenaga Listrik
  2. Tek. Kendaraan Ringan
20107437 SMK Negeri 61 Jl. Pantai Selatan Kep.Seribu -  
 
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA BARAT
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
KOMPETENSI KEAHLIAN
20101496 SMK Negeri 9 Jl. Gedong Panjang 2 No. 17 021 - 5840517
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
20101504 SMK Negeri 11 Jl. Pinangsia I No. 20 021 - 6241342
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
20101503 SMK Negeri 13 Jl. Rawa Belong 2 021 - 5330693
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Usaha Perjalanan Pariwisata
  5. Seni Theater
20101502 SMK Negeri 17 Jl. G. Slipi, Slipi 021 - 5634610
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
20101501 SMK Negeri 35 Jl. Kerajinan No. 42 021 - 5362560
  1. Tek. Gambar Bangunan
  2. Tek. Audio Video
  3. Tek. Pem.Ten.Listrik
  4. Tek. Permesinan
  5. Tek. Mekanik Otomotif
20101500 SMK Negeri 42 Jl. Kamal Raya 021 - 6190365, 5441053
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Teknik Produksi &
    Penyiaran Radio
20101499 SMK Negeri 45 Jl. KPBD 021 - 5480075
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Multimedia
20101498 SMK Negeri 53 Jl. Mangga Besar IV/1 021 - 63851942
  1. Tek. Elektro
  2. Tek. Listrik
  3. Tek. Las
  4. Tek. Otomotif
  5. Tek. Roda Dua
20101497 SMK Negeri 60 Jl. Duri Raya No. 15 021 - 56960049
  1. Usaha Perjalanan Wisata
  2. Akomodasi Perhotelan
  3. Jasa Boga
 
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
KOMPETENSI KEAHLIAN
20102578 SMK Negeri 15 Jl. Mataram 1 021 - 7243559
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
20102589 SMK Negeri 18 Jln. Ciputat Raya Komp. Bank Mandiri 021 - 7513729
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
20102586 SMK Negeri 25 Jl. Raya Ragunan 021 - 7805695
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
20102585 SMK Negeri 28 Jl. Maritim No. 26 021 - 7692004
  1. Akomodasi Perhotelan
  2. Perawatan Sosial
20102581 SMK Negeri 32 Jl. Tebet Dalam 4 No. 1 021 - 8290165
  1. Jasa Boga
  2. Busana Butik
  3. Akomodasi Perhotelan
  4. Petisari
20102601 SMK Negeri 37 Jl. Pertanian 3 021 - 7805787
  1. Jasa Boga
  2. Busana Butik
  3. Akomodasi Perhotelan
  4. Petisari
20102580 SMK Negeri 41 Jl. Margasatwa Komplek Timah 021 - 7512190
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Multimedia
20102600 SMK Negeri 43 Jl. Cipulir 1 021 - 7257532
20102599 SMK Negeri 47 Jl. Condet Pejaten 021 - 7995116
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
20107358 SMK Negeri 59 Jl. Peninggaran Barat I 021 - 7292899
  1. Multimedia
  2. Pemasaran
20109246 SMK Negeri 62 Jl. Camat Gabun 2 021 - 78888116
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Akomodasi Perhotelan
 
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
KOMPETENSI KEAHLIAN
20103783 SMK Negeri 5 Jl. Pisangan Timur VII 021 - 8507824
  1. Tek. Instalasi Tenaga Listrik
  2. Tek. Audio Video
  3. Permesinan
  4. Tek. Kendaraan Ringan
20103778 SMK Negeri 7 Jl. Tenggiri No. 1 Rawamangun 021 - 4711564
  1. Persiapan Grafika
  2. Produksi Grafika
  3. Multimedia
20103791 SMK Negeri 10 Jl. SMEA 6 Mayjend Sutoyo 021 - 8091773
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Rekayasa Perangkat Lunak
20103790 SMK Negeri 22 Jl. Raya Condet 021 - 8400901
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Rekayasa Perangkat Lunak
20103788 SMK Negeri 24 Jl. Bambu Wulung 021 - 8441976
  1. Jasa Boga
  2. Akomodasi Perhotelan
  3. Busana Butik
  4. Rekayasa Perangkat Lunak
20103786 SMK Negeri 40 Jl. Nanas I Utan Kayu 021 - 8563329
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Multimedia
20103785 SMK Negeri 46 Jl. B7 Cipinang Besar Utara 021 - 8195127
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
20103782 SMK Negeri 50 Jl. Cipinang Muara No. 1 021 - 8194466
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
20103781 SMK Negeri 51 Jl. SMEA 33 - SMIK 021 - 8444903
  1. Akuntansi
  2. Administrasi Perkantoran
  3. Pemasaran
  4. Multimedia
  5. Tek. Produksi & Penyiaran
20103780 SMK Negeri 52 Jl. Taruna Jaya 021 - 8732519
  1. Tek. Gambar Bangunan
  2. Tek. Furnitur
  3. Tek. Permesinan
  4. Tek. Kendaraan Ringan

Daftar Alamat SMA REGULER di Provinsi DKI Jakarta

KOTA ADMINISTRASI JAKARTA PUSAT
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
20100216 SMA Negeri 1 Jl. Budi Utomo No. 7 021 - 3865001
20100211 SMA Negeri 4 Jl. Batu No. 3 3843937
20100210 SMA Negeri 5 Jl. Raya Sumur Batu 4243869
20100200 SMA Negeri 7 Jl. Karet Ps. Baru Barat V 5720934
20100217 SMA Negeri 10 Jl. Mangga Besar XIII 021 - 6590192
20100218 SMA Negeri 20 Jl. Krekot Bunder III/1 021 - 3440021
20100219 SMA Negeri 24 Jl. Lapangan Tembak Senayan 5736984
20100221 SMA Negeri 25 Jl. AM. Sangaji No. 22-24 6331921
20100223 SMA Negeri 27 Jl. Mardani Raya 4245969
20100224 SMA Negeri 30 Jl. Jend. A. Yani 021 - 4244015, 4265548
20100212 SMA Negeri 35 Jl. Mutiara 5736914
20100201 SMA Negeri 77 Jl. Cempaka Putih Tengah -
 
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
20100807 SMA Negeri 15 Jl. Agung Utara STS Blok A 021 - 6452717
20100809 SMA Negeri 18 Jl. Warakas I 021 - 4353561
20100810 SMA Negeri 40 Jl. Budi Mulia Raya 6402464
20100811 SMA Negeri 41 Jl. Laks. R. E. Martadinata 021 - 6518840
20100812 SMA Negeri 45 Jl. Perintis Kemerdekaan 4527345
20100797 SMA Negeri 52 Jl. Raya Tugu Semper 4405378
20100796 SMA Negeri 72 Jl. Prihatin Komp. TNI AL 4502584
20100795 SMA Negeri 73 Jl. Cakung 4401622
20100779 SMA Negeri 75 Jl. Tipar Cakung 021 - 4402862
20100780 SMA Negeri 80 Jl. Sunter Karya Selatan V No.80 64716130
20100781 SMA Negeri 83 Jl. Tipar Cakung 4403010
20100782 SMA Negeri 92 Jl. Asrama Pemadam Kebakaran 44832842
20100802 SMA Negeri 110 Jl. Bendungan Melayu 021 - 4350059
20100803 SMA Negeri 111 Jl. Bandengan Utara No. 80 6611703
20100804 SMA Negeri 114 Jl. Pedongkelan 4404611
20100805 SMA Negeri 115 Jl. Rorotan X Rorotan 44850555
 
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA BARAT
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
20101622 SMA Negeri 2 Jl. Gajah Mada 175 6294318
20101625 SMA Negeri 16 Jl. Belibis Terusan No. 16 5320137
20101624 SMA Negeri 17 Jl. Blandongan No. 27 6493216
20101623 SMA Negeri 19 Jl. Perniagaan No. 31 6902830, 6904454
20101621 SMA Negeri 23 Jl. Mandala Utara 5672730
20101620 SMA Negeri 33 Jl. Kamal Raya No. 54 6191043
20101605 SMA Negeri 56 Jl. Kamal Raya Tegal Alur 5550938
20101604 SMA Negeri 57 Jl. Raya Kedoya 5801665
20101589 SMA Negeri 65 Jl. Raya Kelapa Dua 5492759
20101587 SMA Negeri 84 Jl. Peta Barat No.42 5402584
20101586 SMA Negeri 85 Jl. Srengseng Raya 5840921
20101585 SMA Negeri 94 Jl. Raya Semanan 5417052
20101584 SMA Negeri 95 Jl. Satu Maretno.49 5414576
20101583 SMA Negeri 96 Jl. Jati Raya 40 021 - 5403058
20101627 SMA Negeri 101 Jl. Kompleks Joglo Baru 5847332
20101626 SMA Negeri 112 Jl. Sanggrahan 5850695
 
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
20102574 SMA Negeri 6 Jl. Mahakam I/2 Blok C 7208762
20102218 SMA Negeri 26 Jl. Tebet Barat IV 8294645
20102217 SMA Negeri 29 Jl. Kramat No.6 7395831
20102215 SMA Negeri 32 Jl. Panjang Komp. Sekneg Baru Cidodol 7395532
20102214 SMA Negeri 34 Jl. Margasatwa Raya No. 1 7690064
20102213 SMA Negeri 37 Jl. H. Kebon Baru 8296058
20102212 SMA Negeri 38 Jl. Raya Lenteng Agung 7270865
20102211 SMA Negeri 43 Jl. Minangkabau Dalam 8297076
20102210 SMA Negeri 46 Jl. Mesjid Darussalam 7246695
20102193 SMA Negeri 47 Jl. Peta Barat No.42 5402584
20102592 SMA Negeri 49 Jl. Pepaya 9 7270167
20102575 SMA Negeri 55 Jl. Minyak Raya 7996120
20102573 SMA Negeri 60 Jl. Kemang Timur I No.6 7992054
20102572 SMA Negeri 63 Jl. AMD V Manunggal V/57 021 - 7354473
20102571 SMA Negeri 66 Jl. Bango III 7691403
20102569 SMA Negeri 74 Jl. Darma Putra XI 7260377
20107320 SMA Negeri 79 Jl. Menteng Pulo Ujung 8357087
20102566 SMA Negeri 82 JJl. Daha II/15a 7246413
20102565 SMA Negeri 86 Jl. Bintaro Raya Komp. Depsos 7378791
20102564 SMA Negeri 87 Jl. Mawar II Bintaro 73881969
20102563 SMA Negeri 90 Jl. Sabar Petukangan 7341866
20102562 SMA Negeri 97 Jl. Brigif 2 021 - 7270960
20102230 SMA Negeri 108 Jl. Kesadaran Ulujami Raya 7376876
20102219 SMA Negeri 109 Jl. Gardu No. 31 021 - 7271116
 
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR
NPSN
NAMA SEKOLAH
 
ALAMAT
NO. TELP
20103279 SMA Negeri 9 Jl. SMU Negeri 9 Makasar 021 - 8005964
20103287 SMA Negeri 11 Jl. Pendidikan 4802080
20103285 SMA Negeri 12 Jl. Pertanian 8615180
20103284 SMA Negeri 14 Jl. SMA Barat 8090296
20103282 SMA Negeri 22 Jl. Kramat Asem 8563352
20103281 SMA Negeri 31 Jl. Kayu Manis Timur 8508665
20103280 SMA Negeri 36 Jl. Perhubungan Raya 4893358
20103296 SMA Negeri 39 Jl. RA. Fadillah 8400278
20103297 SMA Negeri 42 Jl. Rajawali 808872
20103298 SMA Negeri 44 Jl. Delima IV Perum Klender 8615286
20103314 SMA Negeri 48 Jl. Pinangranti II 8006204
20103313 SMA Negeri 50 Jl. PLN 8195639
20103312 SMA Negeri 51 Jl. Batu Ampar III 8093125
20103311 SMA Negeri 53 Jl. Cipinang Jaya 2b 8194415
20103310 SMA Negeri 54 Jl. Jatinegara Timur IV 8194271
20103309 SMA Negeri 58 Jl. Raya Ciracas 8710377
20103308 SMA Negeri 59 Jl. Bulak Timur I No.10-11 8614101
20103306 SMA Negeri 62 Jl. Raya Bogor Km. 20 8091745
20103305 SMA Negeri 64 Jl. Raya Cipayung 8444750
20103304 SMA Negeri 67 Jl. Squadron Halim Pk 8090386
20103303 SMA Negeri 71 Jl. H. Dogol Kav. TNI-AL 8614112, 86612614
20103302 SMA Negeri 76 Jl. Tipar Cakung 4602500, 46835339
20103300 SMA Negeri 88 Jl. Sawo Indah 8701460
20103299 SMA Negeri 89 Jl. Kayu Tinggi 4604602
20103278 SMA Negeri 91 Jl. Lembah Lontar 8640063
20103258 SMA Negeri 93 Jl. Raya Bogor Komplek Paspampres 8402939
20103257 SMA Negeri 98 Jl. Jaha No.1 8714579, 8708519
20103256 SMA Negeri 99 Jl. Cibubur II 021 - 8700979
20103294 SMA Negeri 100 Jl. Persatuan 2 8500881
20103293 SMA Negeri 102 Jl. Kayutinggi 4604674
20103292 SMA Negeri 103 Jl. Mawar Merah 8622372
20103291 SMA Negeri 104 Jl. H. Taiman Barat 8408247
20103290 SMA Negeri 105 Jl. Usman 8719206
20103289  SMA Negeri 106 Jl. Gandaria I 8701692
20103288  SMA Negeri 107 Jl. Kamp. Rawa Badung Timur 4615738
20103286  SMA Negeri 113 Jl. Albaido 8408034           

Wednesday, 17 November 2010

cara mencetak uang kertas

PERUM PERURI atau Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditugasi untuk mencetak uang rupiah (baik uang kertas maupun uang logam) bagi RepublikIndonesia, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2006.

Selain mencetak uang rupiah Republik Indonesia, juga mencetak produk sekuriti lainnya, termasuk cetakan kertas berharga non uang dan logam non uang.PERUM PERURI didirikan pada tanggal 15 September 1971, dan merupakan gabungan dari dua Perusahaan yaitu PN. Pertjetakan Kebajoran atau PN. PERKEBA, dan PN. Artha Yasa.
Pendirian ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor : 60 tahun 1971, selanjutnya diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor: 25 tahun 1982, kemudian diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2000 dan disempurnakan untuk terakhir kalinya melalui Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2006.
Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2006 di atas, Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERUM PERURI) diberikan tugas dan wewenang untuk mencetak lima produk unggulan, yakni uang Republik Indonesia yang meliputi uang kertas dan uang logam, paspor RI, pita cukai, meterai dan sertifikat tanah. Setiap produk yang dicetak oleh Perum Peruri mempunyai ciri khusus yang mengutamakan segi-segi pengamanan, mengingat dokumen tersebut merupakan dokumen negara yang sangat vital. Oleh karena itu, Perum Peruri selalu memfokuskan unsur-unsur sekuriti atau security feature pada setiap produk cetakannya.
Perum Peruri juga pernah mendapat kepercayaan untuk mencetak dokumen-dokumen sekuriti negara lain atau luar negeri, diantaranya negara Malaysia, Sri Lanka dan Nepal.
Berikut adalah susunan dewan direksi Perum Peruri dengan masa jabatan 2008-2013:
* Junino Jahja sebagai Direktur Utama
* Gardjito Heru sebagai Direktur Niaga
* Supraptono sebagai Direktur Produksi
* Ike Siti Fatnasari sebagai Direktur Teknik dan Umum
* Harry AS Sukadis sebagai Direktur Keuangan dan SDM
Berikut adalah susunan dewan pengawas Perum Peruri dengan masa jabatan 2008-2013:
* Mayjen TNI (Purn) Achdari sebagai Ketua Dewan Pengawas
* Harry Susetyo Nugroho sebagai anggota Dewan Pengawas
* Irjen Pol (Purn) Didy Kusumayadi sebagai anggota Dewan Pengawas
* Djoko Sutrisno sebagai anggota Dewan Pengawas
* Brigjen Pol (Purn) Timbul H Sianturi sebagai anggota Dewan Pengawas
PERUM PERURI mempunyai 3 lokasi gedung, yaitu di Jakarta, Karawang, dan Surabaya. Peruri Jakarta berfungsi sebagai kantor administrasi, pemasaran, dll. Peruri Karawang berfungsi sebagai pabrik percetakan uang dan dokumen sekuriti lainnya. Sedangkan Peruri Surabaya berfungsi sebagai percetakan dokumen sekuriti untukIndonesia wilayah timur.
Dan ini cara pembuatannya:
Quote:
1. peruri akan bikin uang berdasarkan pesanan dari BI. Bahan kertasnya khusus dan tidak bisa dipublikasikan ke umum. setelah dapat spesifikasi uang yang akan dibikin – mulai dari ukuran, tema gambar sampai warna yang diinginkan – baru tim Peruri mendesain. BI yang mnentukan kriteria tersebut
2. desain atau lukisan yang dibuat oleh tim desain (egraver) harus disetujui eleh Dewan Gubernur BI. Tugas mereka selanjutnya bikin gambar kerja (pen drawing), yaitu gambar utama uang yang akan dicetak di atas bahan yang disebut intaglio. Untuk membuat gambar ini para egraver harus pakai kaca pembesar karena harus detail dan rapi,
3. kegiatan selanjutnya disebut proses yang disebut offset. Hasilnya disebut tacticle effect. Artinya menggambar permukaan uang supaya terasa kasar sewaktu diraba. Uniknya mereka bikin gambar intaglio ini tidak seeprti menggambar biasa. Caranya dibikin terbalik dan hasilnya pas dengan anatomi yang diinginkan, halus dan tajam. Jika hasil cetakkan ini sudah sampai disetujui oleh BI, baru Peruri mencetak sesuai dengan jumlah pesanan. Biasanya, pencetakkan uang dilakukan setiap tahun sekali.
4.Yang terakhir adalah Finishing. Proses ini punya dua macam: otomatis dan manual. JIka hasilnya 100% baik, cetakan langsung masuk ke mesin finishing otomatis. Mesin akan memeriksa sebelum proses mencetak dilakukan. Uang yang rusak, terlipat pada saat dicetak akan diproses secara manual.
5. Secara otomatis, saat di dalam mesin finishing nomor dari 100 lembar sudah berurutan dari lembar pertama sapai lembar ke-100. tidak cuma itu, lembaran tersebut juga dipotong-potong menjadi ikatan yang masing-masing berisi 100 bilyet uang.kemudian ikatan tersebut ditumpum menjadi 10, lalu diban atau diikat. Selanjutnya mesin ini akan menghitung lagi. Jumlahnya harus seribu(1000).
6. Terakhir uang kertas masuk ke plastik dan dibungkus. Pengepakan terakhir menggunakan kotak kaleng yang disolder. Selanjutnya uang disimpan di peti kayu yang dilapisi kawat. Semuanya dalam kondisi disegel, dilengkapi kode tertentu
Untuk mengamankan uang kertas yang dibuat, waktu proses mencetak lembaran kertas diberi benang pengaman dan tanda air. Di tiap lembar uang kertas, benang pengaman ini letaknya membujur. Ada yang bentuk seperti garis lurus dan zigzag. Sedangkan tanda air adalah gambar transparan yang ada di sebeleah kanan gambar muka uang. Gambar ini akan terlhat jelas bila kamu menerawangkan ke arah cahaya.
Uang 100 ribu rupiah, 100% bahannya dari plastik. Di dunia hanya Australia dan Thailand yang pakai bahan plastik untuk mata uang mereka.

Sunday, 24 October 2010

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA (BAB 5) KLS IX

Perubahan sosial budaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
kedatangan orang asing yang berbeda kebudayaan dapat mendorong terjadinya perubahan
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.

SEJARAH INDONESIA 1945-1949 (BAB 3 DAB BAB 4) KLS IX

Sejarah Indonesia (1945-1949)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini bagian dari seri
Sejarah Indonesia
Sejarah Indonesia .png
Sejarah Nusantara
Pra-Kolonial (sebelum 1509)
Pra-sejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Islam
Zaman kolonial (1509-1945)
Era Portugis (1509-1602)
Era VOC (1602-1800)
Era Belanda (1800-1942)
Era Jepang (1942-1945)
Sejarah Republik Indonesia
Proklamasi (17 Agustus 1945)
Masa Transisi (1945-1949)
Era Orde Lama (1950-1959)
Demokrasi Terpimpin (1959-1966)
Operasi Trikora (1960-1962)
Konfrontasi Indo-Malaya (1962-1965)
Gerakan 30 September 1965
Era Orde Baru (1966-1998)
Gerakan Mahasiswa 1998
Era Reformasi (1998-sekarang)
[Sunting]
Indonesia: Era 1945-1949 dimulai dengan masuknya Sekutu diboncengi oleh Belanda (NICA) ke berbagai wilayah Indonesia setelah kekalahan Jepang, dan diakhiri dengan penyerahan kedaulatan kepada Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Terdapat banyak sekali peristiwa sejarah pada masa itu, pergantian berbagai posisi kabinet, Aksi Polisionil oleh Belanda, berbagai perundingan, dan peristiwa-peristiwa sejarah lainnya.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] 1945

[sunting] Kembalinya Belanda bersama Sekutu

[sunting] Latar belakang

Sesuai dengan perjanjian Wina pada tahun 1942, bahwa negara-negara sekutu bersepakat untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang kini diduduki Jepang pada pemilik koloninya masing-masing bila Jepang berhasil diusir dari daerah pendudukannya.
Menjelang akhir perang, tahun 1945, sebagian wilayah Indonesia telah dikuasai oleh tentara sekutu. Satuan tentara Australia telah mendaratkan pasukannya di Makasar dan Banjarmasin, sedangkan Balikpapan telah diduduki oleh Australia sebelum Jepang menyatakan menyerah kalah. Sementara Pulau Morotai dan Irian Barat bersama-sama dikuasai oleh satuan tentara Australia dan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, Panglima Komando Kawasan Asia Barat Daya (South West Pacific Area Command/SWPAC).
Setelah perang usai, tentara Australia bertanggung jawab terhadap Kalimantan dan Indonesia bagian Timur, Amerika Serikat menguasai Filipina dan tentara Inggris dalam bentuk komando SEAC (South East Asia Command) bertanggung jawab atas India, Burma, Srilanka, Malaya, Sumatra, Jawa dan Indocina. SEAC dengan panglima Lord Mountbatten sebagai Komando Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara bertugas melucuti bala tentera Jepang dan mengurus pengembalian tawanan perang dan tawanan warga sipil sekutu (Recovered Allied Prisoners of War and Internees/RAPWI).

[sunting] Mendaratnya Belanda diwakili NICA

Berdasarkan Civil Affairs Agreement, pada 23 Agustus 1945 Inggris bersama tentara Belanda mendarat di Sabang, Aceh. 15 September 1945, tentara Inggris selaku wakil Sekutu tiba di Jakarta, dengan didampingi Dr. Charles van der Plas, wakil Belanda pada Sekutu. Kehadiran tentara Sekutu ini, diboncengi NICA (Netherland Indies Civil Administration - pemerintahan sipil Hindia Belanda) yang dipimpin oleh Dr. Hubertus J van Mook, ia dipersiapkan untuk membuka perundingan atas dasar pidato siaran radio Ratu Wilhelmina tahun 1942 (statkundige concepti atau konsepsi kenegaraan), tetapi ia mengumumkan bahwa ia tidak akan berbicara dengan Soekarno yang dianggapnya telah bekerja sama dengan Jepang. Pidato Ratu Wilhemina itu menegaskan bahwa di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran yang di antara anggotanya ialah Kerajaan Belanda dan Hindia Belanda, di bawah pimpinan Ratu Belanda.

[sunting] Pertempuran melawan Sekutu dan NICA

Terdapat berbagai pertempuran yang terjadi pada saat masuknya Sekutu dan NICA ke Indonesia, yang saat itu baru menyatakan kemerdekaannya. Pertempuran yang terjadi di antaranya adalah:
  1. Peristiwa 10 November, di daerah Surabaya dan sekitarnya.
  2. Palagan Ambarawa, di daerah Ambarawa, Semarang dan sekitarnya.
  3. Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur
  4. Bandung Lautan Api, di daerah Bandung dan sekitarnya.

[sunting] Ibukota pindah ke Yogyakarta

Karena situasi keamanan ibukota Jakarta (Batavia saat itu) yang makin memburuk, maka pada tanggal 4 Januari 1946, Soekarno dan Hatta dengan menggunakan kereta api, pindah ke Yogyakarta sekaligus pula memindahkan ibukota. Meninggalkan Sjahrir dan kelompok yang pro-negosiasi dengan Belanda di Jakarta.[1]
Pemindahan ke Yogyakarta dilakukan dengan menggunakan kereta api, yang disebut dengan singkatan KLB (Kereta Luar Biasa). Orang lantas berasumsi bahwa rangkaian kereta api yang digunakan adalah rangkaian yang terdiri dari gerbong-gerbong luar biasa. Padahal yang luar biasa adalah jadwal perjalanannya, yang diselenggarakan di luar jadwal yang ada, karena kereta dengan perjalanan luar biasa ini, mengangkut Presiden beserta Wakil Presiden, dengan keluarga dan staf, gerbong-gerbongnya dipilihkan yang istimewa, yang disediakan oleh Djawatan Kereta Api (DKA) untuk VVIP.[2]

[sunting] 1946

[sunting] Perubahan sistem pemerintahan

Pernyataan van Mook untuk tidak berunding dengan Soekarno adalah salah satu faktor yang memicu perubahan sistem pemerintahan dari presidensiil menjadi parlementer. Gelagat ini sudah terbaca oleh pihak Republik Indonesia, karena itu sehari sebelum kedatangan Sekutu, tanggal 14 November 1945, Soekarno sebagai kepala pemerintahan republik diganti oleh Sutan Sjahrir yang seorang sosialis dianggap sebagai figur yang tepat untuk dijadikan ujung tombak diplomatik, bertepatan dengan naik daunnya partai sosialis di Belanda.
Terjadinya perubahan besar dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia (dari sistem Presidensiil menjadi sistem Parlementer) memungkinkan perundingan antara pihak RI dan Belanda. Dalam pandangan Inggris dan Belanda, Sutan Sjahrir dinilai sebagai seorang moderat, seorang intelek, dan seorang yang telah berperang selama pemerintahan Jepang.

[sunting] Diplomasi Syahrir

Ketika Syahrir mengumumkan kabinetnya, 15 November 1945, Letnan Gubernur Jendral van Mook mengirim kawat kepada Menteri Urusan Tanah Jajahan (Minister of Overseas Territories, Overzeese Gebiedsdelen), J.H.A. Logemann, yang berkantor di Den Haag: "Mereka sendiri [Sjahrir dan Kabinetnya] dan bukan Soekarno yang bertanggung jawab atas jalannya keadaan". Logemann sendiri berbicara pada siaran radio BBC tanggal 28 November 1945, "Mereka bukan kolaborator seperti Soekarno, presiden mereka, kita tidak akan pernah dapat berurusan dengan Dr Soekarno, kita akan berunding dengan Sjahrir". Tanggal 6 Maret 1946 kepada van Mook, Logemann bahkan menulis bahwa Soekarno adalah persona non grata.
Pihak Republik Indonesia memiliki alasan politis untuk mengubah sistem pemerintahan dari Presidensiil menjadi Parlementer, karena seminggu sebelum perubahan pemerintahan itu, Den Haag mengumumkan dasar rencananya. Ir Soekarno menolak hal ini, sebaliknya Sjahrir mengumumkan pada tanggal 4 Desember 1945 bahwa pemerintahnya menerima tawaran ini dengan syarat pengakuan Belanda atas Republik Indonesia.
Tanggal 10 Februari 1946, pemerintah Belanda membuat pernyataan memperinci tentang politiknya dan menawarkan mendiskusikannya dengan wakil-wakil Republik yang diberi kuasa. Tujuannya hendak mendirikan persemakmuran Indonesia, yang terdiri dari daerah-daerah dengan bermacam-macam tingkat pemerintahan sendiri, dan untuk menciptakan warga negara Indonesia bagi semua orang yang dilahirkan di sana. Masalah dalam negeri akan dihadapi dengan suatu parlemen yang dipilih secara demokratis dan orang-orang Indonesia akan merupakan mayoritas. Kementerian akan disesuaikan dengan parlemen tetapi akan dikepalai oleh wakil kerajaan. Daerah-daerah yang bermacam-macam di Indonesia yang dihubungkan bersama-sama dalam suatu susunan federasi dan persemakmuran akan menjadi rekan (partner) dalam Kerajaan Belanda, serta akan mendukung permohonan keanggotaan Indonesia dalam organisasi PBB.
Pada bulan April dan Mei 1946, Sjahrir mengepalai delegasi kecil Indonesia yang pergi berunding dengan pemerintah Belanda di Hoge Veluwe. Lagi, ia menjelaskan bahwa titik tolak perundingan haruslah berupa pengakuan atas Republik sebagai negara berdaulat. Atas dasar itu Indonesia baru mau berhubungan erat dengan Kerajaan Belanda dan akan bekerja sama dalam segala bidang. Karena itu Pemerintah Belanda menawarkan suatu kompromi yaitu: "mau mengakui Republik sebagai salah satu unit negara federasi yang akan dibentuk sesuai dengan Deklarasi 10 Februari".
Sebagai tambahan ditawarkan untuk mengakui pemerintahan de facto Republik atas bagian Jawa dan Madura yang belum berada di bawah perlindungan pasukan Sekutu. Karena Sjahrir tidak dapat menerima syarat-syarat ini, konferensi itu bubar dan ia bersama teman-temannya kembali pulang.
Tanggal 17 Juni 1946, Sjahrir mengirimkan surat rahasia kepada van Mook, menganjurkan bahwa mungkin perundingan yang sungguh-sungguh dapat dimulai kembali. Dalam surat Sjahrir yang khusus ini, ada penerimaan yang samar-samar tentang gagasan van Mook mengenai masa peralihan sebelum kemerdekaan penuh diberikan kepada Indonesia; ada pula nada yang lebih samar-samar lagi tentang kemungkinan Indonenesia menyetujui federasi Indonesia - bekas Hindia Belanda dibagi menjadi berbagai negara merdeka dengan kemungkinan hanya Republik sebagai bagian paling penting. Sebagai kemungkinan dasar untuk kompromi, hal ini dibahas beberapa kali sebelumnya, dan semua tokoh politik utama Republik mengetahui hal ini.
Tanggal 17 Juni 1946, sesudah Sjahrir mengirimkan surat rahasianya kepada van Mook, surat itu dibocorkan kepada pers oleh surat kabar di Negeri Belanda. Pada tanggal 24 Juni 1946, van Mook mengirim kawat ke Den Haag: "menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya, usul balasan (yakni surat Sjahrir) tidak disetujui oleh Soekarno dan ketika dia bertemu dengannya, dia marah. Tidak jelas, apa arah yang akan diambil oleh amarah itu". Pada waktu yang sama, surat kabar Indonesia menuntut dijelaskan desas-desus tentang Sjahrir bersedia menerima pengakuan de facto Republik Indonesia terbatas pada Jawa dan Sumatra.

[sunting] Penculikan terhadap PM Sjahrir

Tanggal 27 Juni 1946, dalam Pidato Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Wakil Presiden Hatta menjelaskan isi usulan balasan di depan rakyat banyak di alun-alun utama Yogyakarta, dihadiri oleh Soekarno dan sebagian besar pucuk pimpinan politik. Dalam pidatonya, Hatta menyatakan dukungannya kepada Sjahrir, akan tetapi menurut sebuah analisis, publisitas luas yang diberikan Hatta terhadap surat itu, menyebabkan kudeta dan penculikan terhadap Sjahrir.
Pada malam itu terjadi peristiwa penculikan terhadap Perdana Menteri Sjahrir, yang sudah terlanjur dicap sebagai "pengkhianat yang menjual tanah airnya". Sjahrir diculik di Surakarta, ketika ia berhenti dalam perjalanan politik menelusuri Jawa. Kemudian ia dibawa ke Paras, kota dekat Solo, di rumah peristirahatan seorang pangeran Solo dan ditahan di sana dengan pengawasan Komandan Batalyon setempat.
Pada malam tanggal 28 Juni 1946, Ir Soekarno berpidato di radio Yogyakarta. Ia mengumumkan, "Berhubung dengan keadaan di dalam negeri yang membahayakan keamanan negara dan perjuangan kemerdekaan kita, saya, Presiden Republik Indonesia, dengan persetujuan Kabinet dan sidangnya pada tanggal 28 Juni 1946, untuk sementara mengambil alih semua kekuasaan pemerintah". Selama sebulan lebih, Soekarno mempertahankan kekuasaan yang luas yang dipegangnya. Tanggal 3 Juli 1946, Sjahrir dibebaskan dari penculikan; namun baru tanggal 14 Agustus 1946, Sjahrir diminta kembali untuk membentuk kabinet.

[sunting] Kembali menjadi PM

Tanggal 2 Oktober 1946, Sjahrir kembali menjadi Perdana Menteri, Sjahrir kemudian berkomentar, "Kedudukan saya di kabinet ketiga diperlemah dibandingkan dengan kabinet kedua dan pertama. Dalam kabinet ketiga saya harus berkompromi dengan Partai Nasional Indonesia dan Masyumi... Saya harus memasukkan orang seperti Gani dan Maramis lewat Soekarno; saya harus menanyakan pendapatnya dengan siapa saya membentuk kabinet."

[sunting] Konferensi Malino - Terbentuknya "negara" baru

Bulan Juni 1946 suatu krisis terjadi dalam pemerintahan Republik Indonesia, keadaan ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda yang telah mengusai sebelah Timur Nusantara. Dalam bulan Juni diadakan konferensi wakil-wakil daerah di Malino, Sulawesi, di bawah Dr. Van Mook dan minta organisasi-organisasi di seluruh Indonesia masuk federasi dengan 4 bagian; Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Timur Raya.

[sunting] 1946-1947

[sunting] Peristiwa Westerling

Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Depot Speciale Troepen pimpinan Westerling. Peristiwa ini terjadi pada Desember 1946-Februari 1947 selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan).

[sunting] Perjanjian Linggarjati

Bulan Agustus pemerintah Belanda melakukan usaha lain untuk memecah halangan dengan menunjuk tiga orang Komisi Jendral datang ke Jawa dan membantu Van Mook dalam perundingan baru dengan wakil-wakil republik itu. Konferensi antara dua belah pihak diadakan di bulan Oktober dan November di bawah pimpinan yang netral seorang komisi khusus Inggris, Lord Killearn. Bertempat di bukit Linggarjati dekat Cirebon. Setelah mengalami tekanan berat -terutama Inggris- dari luar negeri, dicapailah suatu persetujuan tanggal 15 November 1946 yang pokok pokoknya sebagai berikut :
  • Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de facto paling lambat 1 Januari 1949,
  • Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia
  • Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
Untuk ini Kalimantan dan Timur Raya akan menjadi komponennya. Sebuah Majelis Konstituante didirikan, yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih secara demokratis dan bagian-bagian komponen lain. Indonesia Serikat pada gilirannya menjadi bagian Uni Indonesia-Belanda bersama dengan Belanda, Suriname dan Curasao. Hal ini akan memajukan kepentingan bersama dalam hubungan luar negeri, pertahanan, keuangan dan masalah ekonomi serta kebudayaan. Indonesia Serikat akan mengajukan diri sebagai anggota PBB. Akhirnya setiap perselisihan yang timbul dari persetujuan ini akan diselesaikan lewat arbitrase.
Kedua delegasi pulang ke Jakarta, dan Soekarno-Hatta kembali ke pedalaman dua hari kemudian, pada tanggal 15 November 1946, di rumah Sjahrir di Jakarta, berlangsung pemarafan secara resmi Perundingan Linggarjati. Sebenarnya Soekarno yang tampil sebagai kekuasaan yang memungkinkan tercapainya persetujuan, namun, Sjahrir yang diidentifikasikan dengan rancangan, dan yang bertanggung jawab bila ada yang tidak beres.

[sunting] Peristiwa yang terjadi terkait dengan hasil perundingan Linggarjati

Pada bulan Februari dan Maret 1947 di Malang, S M Kartosuwiryo ditunjuk sebagai salah seorang dari lima anggota Masyumi dalam komite Eksekutif, yang terdiri dari 47 anggota untuk mengikuti sidang KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), dalam sidang tersebut membahas apakah Persetujuan Linggarjati yang telah diparaf oleh Pemerintah Republik dan Belanda pada bulan November 1946 akan disetujui atau tidak Kepergian S M Kartosoewirjo ini dikawal oleh para pejuang Hizbullah dari Jawa Barat, karena dalam rapat tersebut kemungkinan ada dua kubu yang bertarung pendapat sangat sengit, yakni antara sayap sosialis (diwakili melalui partai Pesindo), dengan pihak Nasionalis-Islam (diwakili lewat partai Masyumi dan PNI). Pihak sosialis ingin agar KNPI menyetujui naskah Linggarjati tersebut, sedang pihak Masyumi dan PNI cenderung ingin menolaknya Ketika anggota KNIP yang anti Linggarjati benar-benar diancam gerilyawan Pesindo, Sutomo (Bung Tomo) meminta kepada S M Kartosoewirjo untuk mencegah pasukannya agar tidak menembaki satuan-satuan Pesindo.
DR H J Van Mook kepala Netherland Indies Civil Administration (NICA) yang kemudian diangkat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda, dengan gigih memecah RI yang tinggal 3 pulau ini Bahkan sebelum naskah itu ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947, *28 ia telah memaksa terwujudnya Negara Indonesia Timur, dengan presiden Sukowati, lewat Konferensi Denpasar tanggal 18 - 24 Desember 1946
Pada bulan tanggal 25 Maret 1947 hasil perjanjian Linggarjati ditandatangani di Batavia Partai Masyumi menentang hasil perjanjian tersebut, banyak unsur perjuang Republik Indonesia yang tak dapat menerima pemerintah Belanda merupakan kekuasaan berdaulat di seluruh Indonesia 29 Dengan seringnya pecah kekacauan, maka pada prakteknya perjanjian tersebut sangat sulit sekali untuk dilaksanakan.

[sunting] Proklamasi Negara Pasundan

Usaha Belanda tidak berakhir sampai di NIT. Dua bulan setelah itu, Belanda berhasil membujuk Ketua Partai Rakyat Pasundan, Soeria Kartalegawa, memproklamasikan Negara Pasundan pada tanggal 4 Mei 1947. Secara militer negara baru ini sangat lemah, ia benar benar sangat tergantung pada Belanda, tebukti ia baru eksis ketika Belanda melakukan Agresi dan kekuatan RI hengkang dari Jawa Barat.
Di awal bulan Mei 1947 pihak Belanda yang memprakarsai berdirinya Negara Pasundan itu memang sudah merencanakan bahwa mereka harus menyerang Republik secara langsung. Kalangan militer Belanda merasa yakin bahwa kota-kota yang dikuasai pihak Republik dapat ditaklukkan dalam waktu dua minggu dan untuk menguasai seluruh wilayah Republik dalam waktu enam bulan. Namun mereka pun menyadari begitu besarnya biaya yang ditanggung untuk pemeliharaan suatu pasukan bersenjata sekitar 100.000 serdadu di Jawa, yang sebagian besar dari pasukan itu tidak aktif, merupakan pemborosan keuangan yang serius yang tidak mungkin dipikul oleh perekonomian negeri Belanda yang hancur diakibatkan perang. Oleh karena itu untuk mempertahankan pasukan ini maka pihak Belanda memerlukan komoditi dari Jawa (khususnya gula) dan Sumatera (khususnya minyak dan karet).

[sunting] Agresi Militer I

Pada tanggal 27 Mei 1947, Belanda mengirimkan Nota Ultimatum, yang harus dijawab dalam 14 hari, yang berisi:
  1. Membentuk pemerintahan ad interim bersama;
  2. Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga devisa bersama;
  3. Republik Indonesia harus mengirimkan beras untuk rakyat di daerahdaerah yang diduduki Belanda;
  4. Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama, termasuk daerah daerah Republik yang memerlukan bantuan Belanda (gendarmerie bersama); dan
  5. Menyelenggarakan penilikan bersama atas impor dan ekspor
Perdana Menteri Sjahrir menyatakan kesediaan untuk mengakui kedaulatan Belanda selama masa peralihan, tetapi menolak gendarmerie bersama. Jawaban ini mendapatkan reaksi keras dari kalangan parpol-parpol di Republik.
Ketika jawaban yang memuaskan tidak kunjung tiba, Belanda terus "mengembalikan ketertiban" dengan "tindakan kepolisian". Pada tanggal 20 Juli 1947 tengah malam (tepatnya 21 Juli 1947) mulailah pihak Belanda melancarkan 'aksi polisionil' mereka yang pertama.
Aksi Belanda ini sudah sangat diperhitungkan sekali dimana mereka telah menempatkan pasukan-pasukannya di tempat yang strategis. Pasukan yang bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat (tidak termasuk Banten), dan dari Surabaya untuk menduduki Madura dan Ujung Timur. Gerakan-gerakan pasukan yang lebih kecil mengamankan wilayah Semarang. Dengan demikian, Belanda menguasai semua pelabuhan perairan-dalam di Jawa Di Sumatera, perkebunan-perkebunan di sekitar Medan, instalasi- instalasi minyak dan batubara di sekitar Palembang, dan daerah Padang diamankan. Melihat aksi Belanda yang tidak mematuhi perjanjian Linggarjati membuat Sjahrir bingung dan putus asa, maka pada bulan Juli 1947 dengan terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri, karena sebelumnya dia sangat menyetujui tuntutan Belanda dalam menyelesaikan konflik antara pemerintah RI dengan Belanda.
Menghadapi aksi Belanda ini, bagi pasukan Republik hanya bisa bergerak mundur dalam kebingungan dan hanya menghancurkan apa yang dapat mereka hancurkan. Dan bagi Belanda, setelah melihat keberhasilan dalam aksi ini menimbulkan keinginan untuk melanjutkan aksinya kembali. Beberapa orang Belanda, termasuk van Mook, berkeinginan merebut Yogyakarta dan membentuk suatu pemerintahan Republik yang lebih lunak, tetapi pihak Amerika dan Inggris yang menjadi sekutunya tidak menyukai 'aksi polisional' tersebut serta menggiring Belanda untuk segera menghentikan penaklukan sepenuhnya terhadap Republik.

[sunting] Naiknya Amir Syarifudin sebagai Perdana Menteri

Setelah terjadinya Agresi Militer Belanda I pada bulan Juli, pengganti Sjahrir adalah Amir Syarifudin yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Dalam kapasitasnya sebagai Perdana Menteri, dia menggaet anggota PSII yang dulu untuk duduk dalam Kabinetnya. Termasuk menawarkan kepada S.M. Kartosoewirjo untuk turut serta duduk dalam kabinetnya menjadi Wakil Menteri Pertahanan kedua. Seperti yang dijelaskan dalam sepucuk suratnya kepada Soekarno dan Amir Syarifudin, dia menolak kursi menteri karena "ia belum terlibat dalam PSII dan masih merasa terikat kepada Masyumi".
S.M. Kartosoewirjo menolak tawaran itu bukan semata-mata karena loyalitasnya kepada Masyumi. Penolakan itu juga ditimbulkan oleh keinginannya untuk menarik diri dari gelanggang politik pusat. Akibat menyaksikan kondisi politik yang tidak menguntungkan bagi Indonesia disebabkan berbagai perjanjian yang diadakan pemerintah RI dengan Belanda. Di samping itu Kartosoewirjo tidak menyukai arah politik Amir Syarifudin yang kekiri-kirian. Kalau dilihat dari sepak terjang Amir Syarifudin selama manggung di percaturan politik nasional dengan menjadi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan sangat jelas terlihat bahwa Amir Syarifudin ingin membawa politik Indonesia ke arah Komunis.

[sunting] 1948

[sunting] Perjanjian Renville

Sementara peperangan sedang berlangsung, Dewan Keamanan PBB, atas desakan Australia dan India, mengeluarkan perintah peletakan senjata tanggal 1 Agustus 1947, dan segera setelah itu mendirikan suatu Komisi Jasa-Jasa Baik, yang terdiri dari wakil-wakil Australia, Belgia dan Amerika Serikat, untuk menengahi perselisihan itu .
Tanggal 17 Januari 1948 berlangsung konferensi di atas kapal perang Amerika Serikat, Renville, ternyata menghasilkan persetujuan lain, yang bisa diterima oleh yang kedua belah pihak yang berselisih. Akan terjadi perdamaian yang mempersiapkan berdirinya zone demiliterisasi Indonesia Serikat akan didirikan, tetapi atas garis yang berbeda dari persetujuan Linggarjati, karena plebisit akan diadakan untuk menentukan apakah berbagai kelompok di pulau-pulau besar ingin bergabung dengan Republik atau beberapa bagian dari federasi yang direncanakan Kedaulatan Belanda akan tetap atas Indonesia sampai diserahkan pada Indonesia Serikat.
Pada tanggal 19 Januari ditandatangani persetujuan Renville Wilayah Republik selama masa peralihan sampai penyelesaian akhir dicapai, bahkan lebih terbatas lagi ketimbang persetujuan Linggarjati : hanya meliputi sebagian kecil Jawa Tengah (Jogja dan delapan Keresidenan) dan ujung barat pulau Jawa -Banten tetap daerah Republik Plebisit akan diselenggarakan untuk menentukan masa depan wilayah yang baru diperoleh Belanda lewat aksi militer. Perdana menteri Belanda menjelaskan mengapa persetujuan itu ditandatangani agar Belanda tidak "menimbulkan rasa benci Amerika".
Sedikit banyak, ini merupakan ulangan dari apa yang terjadi selama dan sesudah perundingan Linggarjati. Seperti melalui persetujuan Linggarjati, melalui perundingan Renville, Soekarno dan Hatta dijadikan lambang kemerdekaan Indonesia dan persatuan Yogyakarta hidup lebih lama, jantung Republik terus berdenyut. Ini kembali merupakan inti keuntungan Seperti sesudah persetujuan Linggarjati, pribadi lain yang jauh dari pusat kembali diidentifikasi dengan persetujuan -dulu Perdana Menteri Sjahrir, kini Perdana Menteri Amir- yang dianggap langsung bertanggung jawab jika sesuatu salah atau dianggap salah.

[sunting] Runtuhnya Kabinet Amir dan naiknya Hatta sebagai Perdana Menteri

Dari adanya Agresi Militer I dengan hasil diadakannya Perjanjian Renville menyebabkan jatuhnya Kabinet Amir. Seluruh anggota yang tergabung dalam kabinetnya yang terdiri dari anggota PNI dan Masyumi meletakkan jabatan ketika Perjanjian Renville ditandatangani, disusul kemudian Amir sendiri meletakkan jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948. Dengan pengunduran dirinya ini dia mungkin mengharapkan akan tampilnya kabinet baru yang beraliran komunis untuk menggantikan posisinya. Harapan itu menjadi buyar ketika Soekarno berpaling ke arah lain dengan menunjuk Hatta untuk memimpin suatu 'kabinet presidentil' darurat (1948-1949), dimana seluruh pertanggungjawabannya dilaporkan kepada Soekarno sebagai Presiden.
Dengan terpilihnya Hatta, dia menunjuk para anggota yang duduk dalam kabinetnya mengambil dari golongan tengah, terutama orang-orang PNI, Masyumi, dan tokoh-tokoh yang tidak berpartai. Amir dan kelompoknya dari sayap kiri kini menjadi pihak oposisi. Dengan mengambil sikap sebagai oposisi tersebut membuat para pengikut Sjahrir mempertegas perpecahan mereka dengan pengikut-pengikut Amir dengan membentuk partai tersendiri yaitu Partai Sosialis Indonesia (PSI), pada bulan Februari 1948, dan sekaligus memberikan dukungannya kepada pemerintah Hatta.
Memang runtuhnya Amir datang bahkan lebih cepat ketimbang Sjahrir, enam bulan lebih dulu Amir segera dituduh -kembali khususnya oleh Masyumi dan kemudian Partai Nasional Indonesia- terlalu banyak memenuhi keinginan pihak asing. Hanya empat hari sesudah Perjanjian Renville ditandatangani, pada tanggal 23 Januari 1948, Amir Syarifudin dan seluruh kabinetnya berhenti. Kabinet baru dibentuk dan susunannya diumumkan tanggal 29 Januari 1948. Hatta menjadi Perdana Menteri sekaligus tetap memangku jabatan sebagai Wakil Presiden.
Tampaknya kini lebih sedikit jalan keluar bagi Amir dibanding dengan Sjahrir sesudah Perundingan Linggarjati; dan lebih banyak penghinaan. Beberapa hari sesudah Amir berhenti, di awal Februari 1948, Hatta membawa Amir dan beberapa pejabat Republik lainnya mengelilingi Provinsi. Amir diharapkan menjelaskan Perjanjian Renville. Pada rapat raksasa di Bukittinggi, Sumatra Barat, di kota kelahiran Hatta -dan rupanya diatur sebagai tempat berhenti terpenting selama perjalanan- Hatta berbicara tentang kegigihan Republik, dan pidatonya disambut dengan hangat sekali.
Kemudian Amir naik mimbar, dan seperti diuraikan Hatta kemudian: "Dia tampak bingung, seolah-olah nyaris tidak mengetahui apa ayang harus dikatakannya. Dia merasa bahwa orang rakyat Bukittinggi tidak menyenanginya, khususnya dalam hubungan persetujuan dengan Belanda. Ketika dia meninggalkan mimbar, hampir tidak ada yang bertepuk tangan"
Menurut peserta lain: "Wajah Amir kelihatannya seperti orang yang sudah tidak berarti". Sjahrir juga diundang ke rapat Bukittinggi ini; dia datang dari Singapura dan berpidato. Menurut Leon Salim -kader lama Sjahrir- "Sjahrir juga kelihatan capai dan jarang tersenyum". Menurut kata-kata saksi lain, "Seolah-olah ada yang membeku dalam wajah Sjahrir" dan ketika gilirannya berbicara "Dia hanya mengangkat tangannya dengan memberi salam Merdeka dan mundur". Hatta kemudian juga menulis dengan singkat tentang pidato Sjahrir: "Pidatonya pendek". Dipermalukan seperti ini, secara psikologis amat mungkin menjadi bara dendam yang menyulut Amir untuk memberontak di kemudian hari.
Perjanjian Renville tidak lebih baik daripada perundingan di Linggarjati. Kedua belah pihak menuduh masing-masing melanggar perdamaian, dan Indonesia menuduh Belanda mendirikan blokade dengan maksud memaksanya menyerah. Bulan Juli 1948, Komisi Jasa-jasa Baik, yang masih ada di tempat mengawasi pelaksanaan persetujuan itu, melaporkan bahwa Indonesia mengeluh akan gencatan senjata yang berulang-ulang.

[sunting] 1948-1949

[sunting] Agresi Militer II

Agresi Militer II terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

[sunting] Perjanjian Roem Royen

Akibat dari Agresi Militer tersebut, pihak internasional melakukan tekanan kepada Belanda, terutama dari pihak Amerika Serikat yang mengancam akan menghentikan bantuannya kepada Belanda, akhirnya dengan terpaksa Belanda bersedia untuk kembali berunding dengan RI. Pada tanggal 7 Mei 1949, Republik Indonesia dan Belanda menyepakati Perjanjian Roem Royen.

[sunting] Serangan Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta

Serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III -dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat- berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI -berarti juga Republik Indonesia- masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta.

[sunting] Serangan Umum Surakarta

Serangan Umum Surakarta berlangsung pada tanggal 7-10 Agustus 1949 secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa yang berjuang tersebut kemudian dikenal sebagai tentara pelajar. Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Solo dan sekitarnya. Serangan itu menyadarkan Belanda bila mereka tidak akan mungkin menang secara militer, mengingat Solo yang merupakan kota yang pertahanannya terkuat pada waktu itu berhasil dikuasai oleh TNI yang secara peralatan lebih tertinggal tetapi didukung oleh rakyat dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang andal seperti Slamet Riyadi.

[sunting] Konferensi Meja Bundar

Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949. Yang menghasilkan kesepakatan:

[sunting] Penyerahan kedaulatan oleh Belanda

Bung Hatta di Amsterdam, Belanda menandatangani perjanjian penyerahan kedaulatan
Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949, selang empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Pengakuan ini dilakukan ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Di Belanda selama ini juga ada kekhawatiran bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan politionele acties (Aksi Polisionil) pada 1945-1949 adalah ilegal.